Minggu, 25 Agustus 2019

[CERITA] Seharusnya Benar - Benar Belajar Di Rumah, Bukan Asyik Liburan


Karya : Maria Vesta Wulandari
Aku adalah seorang pelajar di suatu sekolah swasta. Sebagai junior, memang sudah seharusnya kami menghormati kakak kelas. Apalagi kakak kelas 12 yang mulai menjalani ujian-ujian agar mereka dapat lulus. Tentunya kami harus mendukung mereka, ‘kan ? Memberi mereka semangat, mendoakan mereka, dan yang paling penting adalah menciptakan suasana ujian yang mendukung. Oleh sebab itu kami diliburkan, lebih tepatnya belajar di rumah. Dengan begitu suasana di sekolah mungkin akan lebih kondusif dan para guru bisa fokus menjaga ruang ujian.

Libur, libur, dan libur adalah sebuah kata yang selalu dikatakan para pelajar jika mereka sedang jenuh di sekolah. Entah jenuh karena harus ke sekolah setiap hari atau jenuh karena pelajarannya atau hal lainnya. Setiap orang mempunyai alasannya sendiri-sendiri. Kalau aku, biasanya karena sedang banyak sekali tugas dan aku kebingungan untuk menyelesaikannya. Tetapi, kadang alasanku juga bisa karena sedang bosan atau malas. Ah, sudahlah. Jangan memikirkan alasan terus, nanti aku semakin menjadi manusia yang banyak alasan. Yang terpenting saat ini adalah kami selaku junior yang menghargai kakak kelas rela belajar di rumah.

“Hoaamm….. Wah, sudah jam 7 pagi ya. Biasanya harus pagi – pagi bangun, menyiapkan diri ke sekolah. Hari ini dan 8 hari berikutnya hal itu tidak berlaku. Asyik !” Gumamku di atas kasur tempat tidurku. Setelah beberapa menit membuka mata dan mengumpulkan kesadaran, aku meraih handphoneku yang ada di dekat jendela kamarku. Aku langsung membuka pemberitahuan-pemberitahuan yang ada di handphoneku. Wow, semalam teman-teman kelasku ada yang memberi tahukan dan membicarakan tugas-tugas yang diberikan bapak/ibu guru. Tentu saja mataku menjadi jeli membaca setiap kalimat yang dituliskan temanku itu semalam.

“Ya ampun. Tugasnya banyak banget. 1…. 2… 3… Hahh ?! 11 biji ?! Aduhh…. Ribet – ribet pula ini tugasnya” Keluhku sambil mengusap layar handphoneku.

Dengan tampang yang mungkin terlihat seperti orang putus asa, aku beranjak dari kasur dan keluar kamar. Lalu ku menuju kamar mandi, aku hanya buang air kecil dan cuci muka. Aku terlalu malas untuk mandi pagi saat libur. Ya, aku tahu, aku jorok. Kemudian aku ke dapur untuk mengisi gelasku dengan air mineral dan meneguknya. Tentu aku juga menyapa seiisi rumahku ada papaku, mamaku, adikku yang sedang bersiap berangkat sekolah. Kakakku sudah berangkat kuliah dan kakaku sepupuku masih tidur karena ia bekerja shift malam.

Aku duduk di samping papaku yang sedang menonton televisi dan ikut menyaksikan. Tentu aku tidak bisa fokus menyimak semua yang disampaikan di acara itu, karena tugas – tugas itu menghantuiku. “Cuma tugas 11 biji aja aku dah cemas kayak gini. Bukannya cepat dikerjakan malah hanya memikirkannya” Kataku dalam hati. Mungkin bisa dibilang aku ini seseorang yang terlalu banyak memikirkan sesuatu daripada bertindak. Aku terlalu mempertimbangkan apa yang akan kulakukan dan aku takut salah. Daripada aku tidak melakukan apa – apa dan hanya duduk manis menatap layar televisi aku segera mencari mamaku. Aku perlu bantuannya untuk mengerjakan beberapa tugas.

Di siang hari ketika aku sedang mengerjakan tugasku, tiba – tiba salah seorang teman dekatku meneleponku. “Tumben nih si Caca telpon. Ada apa ya ?” lalu ku tekan gambar telepon berwarna hijau. “Halo, Ta” “Halo, Ca. Ada apa nih nelpon ?” “Aku mau ngajak kamu ke acara color run di Universitas Jaya Selalu” “Wow, manteb tuh. Boleh boleh. Kapan ? Berapa tiketnya ?” “Besok sabtu. Tiketnya 70 ribu rupiah saja. Nanti udah dapet macem – macem, ada sertifikat dan kita bakal lari sore trus malemnya ada DJ performance” “Yaudah, aku tanya mamaku dulu. Nanti aku kabari lagi kalau boleh” “Please ikut ya, sama aku. Nanti kamu berangkatnya sama aku. Ya ya ya ?” “Oke ku usahain.” “Sip. Aku tutup telponnya ya. Dadah” “Dadah” Percakapan kami berakhir. Aku belum pernah ikut acara seperti ini. Lari bersama orang – orang yang mayoritas tidak kukenal dan nonton konser secara langsung. Aku langsung menghampiri mamaku lagi dan menceritakannya. Mamaku menanyakan setiap detailnya, tapi aku hanya bisa menjawab beberapa karena aku masih minim informasi. Untungnya mamaku mengijinkanku pergi ke acara itu. Aku segera memberitahu temanku dan temanku tampak sangat senang. Kemudian, dia bilang kalau besok siang akan ke rumahku setelah dia mengambil suatu pesanan, untuk mengambil uangku dan memberikanku tiket.

Aku sangat senang dan membayangkan apa yang kira – kira akan terjadi di acara itu. Aku tiba – tiba jadi semangat menyelesaikan tugas – tugasku pada hari pertama libur ini. Walaupun pada akhirnya aku hanya menyelesaikan satu. Tak apa, setidaknya ada kemajuan. Setelah menyelesaikan satu tugas, aku mengumpulkan bahan – bahan untuk membuat tugas lainnya yang akan ku kerjakan esok hari. Malam harinya aku bermain sepuasku sampai tengah malam.

Tiga hari berlalu dan tibalah hari sabtu. Betapa semangatnya aku sampai tampang senang susah dihilangkan dari wajahku. Tak sabar ingin segera menikmati acara sore nanti. Aku bangun pukul 8.00 karena semalam aku bermain game sampai larut. Pukul 9.00 aku mandi dan tugas – tugas melintas di pikiranku, seperti mengingatkan diriku untuk segera menyelesaikan mereka. Selama tiga hari ini tugas yang benar – benar selesai hanya satu tugas. Yang lainnya baru setengah jadi. Setelah mandi aku langsung mengambil selembar kertas folio dan segera mengerjakan tugas yang bisa ku selesaikan saat itu.

Waktu pun berlalu dan tak terasa sudah pukul 12.00 itu tandanya aku harus bersiap – siap untuk pergi. Aku segera merapihkan pekerjaanku dan mengingatkan kakakku untuk mengantarkan aku. Sebelumnya mamaku sudah meminta tolong kakakku untuk sekalian mengantarkanku karena kakakku juga akan pergi ke kampusnya. Pukul 13.00 aku diantar kakakku menuju ke rumah Caca.
Sampailah aku di rumah Caca. Aku menyapa orangtuanya dan menanyakan keberadaannya. Muncullah seorang Caca dari kamar tidurnya. Ku kira Caca sudah mendapat ijin dari orang tuanya untuk membawa motor. Ternyata orangtuanya sebenarnya tidak mengijinkan. Aku menjadi sangat canggung di rumahnya karena orangtuanya tampak seperti marah dan Caca tetap seperti tidak peduli. Aku hanya diam saja. Tapi akhirnya kita jadi pergi, kok.

Sekitar 30 menit perjalanan, sampailah kita di Kampus II Universitas Jaya Selalu. Kami melakukan pendaftaraan ulang dan mendapat cap di tangan. Kemudian Caca mencari kakaknya yang menjadi panitia di acara itu sambil menunggu teman kami yang lain yaitu Els dan Melan. Acara dimulai pukul 16.30 dan pada saat itu tiba tiba cuaca yang tadinya panas berubah jadi mendung dan hujan. Kita lari 5 km kehujanan.

Singkat cerita, kami sudah sampai lagi di kampus dan basah kuyup. Kami diberi sebuah tas yang berisi tanaman untuk kami tanam di rumah dan bubuk holi untuk dilemparkan sewaktu penampilan DJ. Kemudian sekitar jam 7 konser dimulai. Banyak band – band lokal yang mengisi acara. Ternyata band – band lokal kota ini juga punya lagu – lagu dan penampilang yang luar biasa. Dari sekian band aku menjadi suka band bernama ASAPTEBAL lagunya enak didengar dan liriknya mengena. Selain itu, vokalisnya juga tampan dan tingkah anggota lainnya sangat kocak.

Akhirnya kita sampai di ujung acara yaitu penampilan DJ Wilde. Heboh sekali, dan semua peserta tampak menikmatinya. Kami mengangkat tangan, berloncat-loncat, dan saling melemparkan bubuk holi warna – warni. DJ Wilde pun sampai mengecilkan volume untuk mendengar suara kami ikut menyanyikan mixed song yang dibawakan.

Malam semakin larut, mengingatkan kami untuk segera pulang. Sebenarnya acara belum selesai tetapi waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Kami pelajar SMA yang belum 17 tahun dan nekat membawa motor harus segera meninggalkan tempat ini agar orangtua tidak khawatir. Singkat cerita, aku dan Caca selamat sampai rumah Caca dan tidak kena tilangan polisi. Jangan tiru perbuatan kami ya. Mungkin ini pengalaman liburanku yang paling seru bersama temanku selama 9 hari tidak pergi ke sekolah. Aku pun meminta kakakku menjemputku. Pukul 23.00 aku dan kakakku sampai rumah dengan selamat. Kembalilah aku dengan rasa cemas dan bingung yang menhantuiku karena banyaknya tugas menunggu dikerjakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar