Karya : Maria Vesta Wulandari
Aku
adalah seorang pelajar di suatu sekolah swasta. Sebagai junior, memang sudah
seharusnya kami menghormati kakak kelas. Apalagi kakak kelas 12 yang mulai
menjalani ujian-ujian agar mereka dapat lulus. Tentunya kami harus mendukung
mereka, ‘kan ? Memberi mereka semangat, mendoakan mereka, dan yang paling
penting adalah menciptakan suasana ujian yang mendukung. Oleh sebab itu kami
diliburkan, lebih tepatnya belajar di rumah. Dengan begitu suasana di sekolah
mungkin akan lebih kondusif dan para guru bisa fokus menjaga ruang ujian.
Libur,
libur, dan libur adalah sebuah kata yang selalu dikatakan para pelajar jika
mereka sedang jenuh di sekolah. Entah jenuh karena harus ke sekolah setiap hari
atau jenuh karena pelajarannya atau hal lainnya. Setiap orang mempunyai
alasannya sendiri-sendiri. Kalau aku, biasanya karena sedang banyak sekali
tugas dan aku kebingungan untuk menyelesaikannya. Tetapi, kadang alasanku juga
bisa karena sedang bosan atau malas. Ah, sudahlah. Jangan memikirkan alasan
terus, nanti aku semakin menjadi manusia yang banyak alasan. Yang terpenting
saat ini adalah kami selaku junior yang menghargai kakak kelas rela belajar di
rumah.
“Hoaamm…..
Wah, sudah jam 7 pagi ya. Biasanya harus pagi – pagi bangun, menyiapkan diri ke
sekolah. Hari ini dan 8 hari berikutnya hal itu tidak berlaku. Asyik !” Gumamku
di atas kasur tempat tidurku. Setelah beberapa menit membuka mata dan
mengumpulkan kesadaran, aku meraih handphoneku
yang ada di dekat jendela kamarku. Aku langsung membuka pemberitahuan-pemberitahuan
yang ada di handphoneku. Wow, semalam
teman-teman kelasku ada yang memberi tahukan dan membicarakan tugas-tugas yang
diberikan bapak/ibu guru. Tentu saja mataku menjadi jeli membaca setiap kalimat
yang dituliskan temanku itu semalam.
“Ya ampun. Tugasnya banyak banget. 1…. 2… 3… Hahh ?! 11 biji ?! Aduhh…. Ribet – ribet pula ini tugasnya” Keluhku sambil mengusap layar handphoneku.
Dengan
tampang yang mungkin terlihat seperti orang putus asa, aku beranjak dari kasur
dan keluar kamar. Lalu ku menuju kamar mandi, aku hanya buang air kecil dan
cuci muka. Aku terlalu malas untuk mandi pagi saat libur. Ya, aku tahu, aku
jorok. Kemudian aku ke dapur untuk mengisi gelasku dengan air mineral dan
meneguknya. Tentu aku juga menyapa seiisi rumahku ada papaku, mamaku, adikku
yang sedang bersiap berangkat sekolah. Kakakku sudah berangkat kuliah dan
kakaku sepupuku masih tidur karena ia bekerja shift malam.
Aku
duduk di samping papaku yang sedang menonton televisi dan ikut menyaksikan.
Tentu aku tidak bisa fokus menyimak semua yang disampaikan di acara itu, karena
tugas – tugas itu menghantuiku. “Cuma tugas 11 biji aja aku dah cemas kayak
gini. Bukannya cepat dikerjakan malah hanya memikirkannya” Kataku dalam hati.
Mungkin bisa dibilang aku ini seseorang yang terlalu banyak memikirkan sesuatu
daripada bertindak. Aku terlalu mempertimbangkan apa yang akan kulakukan dan
aku takut salah. Daripada aku tidak melakukan apa – apa dan hanya duduk manis
menatap layar televisi aku segera mencari mamaku. Aku perlu bantuannya untuk
mengerjakan beberapa tugas.
Di
siang hari ketika aku sedang mengerjakan tugasku, tiba – tiba salah seorang
teman dekatku meneleponku. “Tumben nih si Caca telpon. Ada apa ya ?” lalu ku
tekan gambar telepon berwarna hijau. “Halo, Ta” “Halo, Ca. Ada apa nih nelpon
?” “Aku mau ngajak kamu ke acara color
run di Universitas Jaya Selalu” “Wow, manteb tuh. Boleh boleh. Kapan ?
Berapa tiketnya ?” “Besok sabtu. Tiketnya 70 ribu rupiah saja. Nanti udah dapet
macem – macem, ada sertifikat dan kita bakal lari sore trus malemnya ada DJ performance”
“Yaudah, aku tanya mamaku dulu. Nanti aku kabari lagi kalau boleh” “Please ikut ya, sama aku. Nanti kamu
berangkatnya sama aku. Ya ya ya ?” “Oke ku usahain.” “Sip. Aku tutup telponnya
ya. Dadah” “Dadah” Percakapan kami berakhir. Aku belum pernah ikut acara
seperti ini. Lari bersama orang – orang yang mayoritas tidak kukenal dan nonton
konser secara langsung. Aku langsung menghampiri mamaku lagi dan
menceritakannya. Mamaku menanyakan setiap detailnya, tapi aku hanya bisa
menjawab beberapa karena aku masih minim informasi. Untungnya mamaku
mengijinkanku pergi ke acara itu. Aku segera memberitahu temanku dan temanku
tampak sangat senang. Kemudian, dia bilang kalau besok siang akan ke rumahku
setelah dia mengambil suatu pesanan, untuk mengambil uangku dan memberikanku
tiket.
Aku
sangat senang dan membayangkan apa yang kira – kira akan terjadi di acara itu.
Aku tiba – tiba jadi semangat menyelesaikan tugas – tugasku pada hari pertama
libur ini. Walaupun pada akhirnya aku hanya menyelesaikan satu. Tak apa,
setidaknya ada kemajuan. Setelah menyelesaikan satu tugas, aku mengumpulkan
bahan – bahan untuk membuat tugas lainnya yang akan ku kerjakan esok hari.
Malam harinya aku bermain sepuasku sampai tengah malam.
Tiga
hari berlalu dan tibalah hari sabtu. Betapa semangatnya aku sampai tampang
senang susah dihilangkan dari wajahku. Tak sabar ingin segera menikmati acara
sore nanti. Aku bangun pukul 8.00 karena semalam aku bermain game sampai larut. Pukul 9.00 aku mandi
dan tugas – tugas melintas di pikiranku, seperti mengingatkan diriku untuk
segera menyelesaikan mereka. Selama tiga hari ini tugas yang benar – benar
selesai hanya satu tugas. Yang lainnya baru setengah jadi. Setelah mandi aku
langsung mengambil selembar kertas folio dan segera mengerjakan tugas yang bisa
ku selesaikan saat itu.
Waktu
pun berlalu dan tak terasa sudah pukul 12.00 itu tandanya aku harus bersiap –
siap untuk pergi. Aku segera merapihkan pekerjaanku dan mengingatkan kakakku
untuk mengantarkan aku. Sebelumnya mamaku sudah meminta tolong kakakku untuk
sekalian mengantarkanku karena kakakku juga akan pergi ke kampusnya. Pukul
13.00 aku diantar kakakku menuju ke rumah Caca.
Sampailah
aku di rumah Caca. Aku menyapa orangtuanya dan menanyakan keberadaannya.
Muncullah seorang Caca dari kamar tidurnya. Ku kira Caca sudah mendapat ijin
dari orang tuanya untuk membawa motor. Ternyata orangtuanya sebenarnya tidak
mengijinkan. Aku menjadi sangat canggung di rumahnya karena orangtuanya tampak
seperti marah dan Caca tetap seperti tidak peduli. Aku hanya diam saja. Tapi akhirnya
kita jadi pergi, kok.
Sekitar
30 menit perjalanan, sampailah kita di Kampus II Universitas Jaya Selalu. Kami
melakukan pendaftaraan ulang dan mendapat cap di tangan. Kemudian Caca mencari
kakaknya yang menjadi panitia di acara itu sambil menunggu teman kami yang lain
yaitu Els dan Melan. Acara dimulai pukul 16.30 dan pada saat itu tiba tiba
cuaca yang tadinya panas berubah jadi mendung dan hujan. Kita lari 5 km
kehujanan.
Singkat
cerita, kami sudah sampai lagi di kampus dan basah kuyup. Kami diberi sebuah
tas yang berisi tanaman untuk kami tanam di rumah dan bubuk holi untuk
dilemparkan sewaktu penampilan DJ. Kemudian sekitar jam 7 konser dimulai.
Banyak band – band lokal yang mengisi acara. Ternyata band – band lokal kota
ini juga punya lagu – lagu dan penampilang yang luar biasa. Dari sekian band
aku menjadi suka band bernama ASAPTEBAL lagunya enak didengar dan liriknya
mengena. Selain itu, vokalisnya juga tampan dan tingkah anggota lainnya sangat
kocak.
Akhirnya
kita sampai di ujung acara yaitu penampilan DJ Wilde. Heboh sekali, dan semua
peserta tampak menikmatinya. Kami mengangkat tangan, berloncat-loncat, dan
saling melemparkan bubuk holi warna – warni. DJ Wilde pun sampai mengecilkan
volume untuk mendengar suara kami ikut menyanyikan mixed song yang dibawakan.
Malam
semakin larut, mengingatkan kami untuk segera pulang. Sebenarnya acara belum
selesai tetapi waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Kami pelajar SMA yang belum
17 tahun dan nekat membawa motor harus segera meninggalkan tempat ini agar orangtua
tidak khawatir. Singkat cerita, aku dan Caca selamat sampai rumah Caca dan
tidak kena tilangan polisi. Jangan tiru perbuatan kami ya. Mungkin ini
pengalaman liburanku yang paling seru bersama temanku selama 9 hari tidak pergi
ke sekolah. Aku pun meminta kakakku menjemputku. Pukul 23.00 aku dan kakakku
sampai rumah dengan selamat. Kembalilah aku dengan rasa cemas dan bingung yang
menhantuiku karena banyaknya tugas menunggu dikerjakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar