Minggu, 25 Agustus 2019

[OPINI]Kesadaran Siswi Dalam Menjaga Kebersihan Lingkungan Sekolah



Bersih Pangkal Sehat. Slogan yang sudah tidak asing di telinga kita. Memang betul adanya arti kalimat tersebut. Bersih sendiri berarti bebas dari kotoran. Dengan bersihnya lingkungan kita, akan ada sedikit bakteri atau kuman yang bersarang dan berkembang di sekitar kita. Tapi, apakah kita semua sudah sadar akan hal itu ? Apakah kita sudah paham akan arti slogan itu ? Atau kita paham tapi kurang peduli ?
Kebersihan lingkungan, terutama di lingkungan sekolah, sangat penting untuk dijaga. Sekolah yang bersih akan membantu kemajuan kualitas sekolah tersebut. Lingkungan sekolah yang bersih akan menciptakan suasana proses belajar yang nyaman. Sebaliknya, jika lingkungan sekolah kita kotor maka akan menimbulkan dampak negatif. Misalnya, kita akan mudah terkena penyakit, karena banyak kuman yang berkembang, di beberapa sudut yang kurang dijaga kebersihannya ini menjadi tidak enak dipandang, pokoknya tidak nyaman. Hal tersebut bisa menjadikan kegiatan belajar mengajar pun menjadi terganggu, sehingga siswi menjadi malas, ogah-ogahan, karena merasa kurang nyaman.
Mari kita lihat keadaan SMA Santa Maria Yogyakarta, sekolah menengah atas yang berada di Jalan Ireda no. 19A Yogyakarta ini apakah sudah bersih ? Menurut pandangan saya, sekolah tempat saya bersekolah ini sudah cukup bersih. Mengapa saya harus menambahkan kata ‘cukup’ ? Karena lingkungan sekolah tampaknya lebih bersih ketika karyawan yang bertugas untuk membersihkan lingkungan sekolah baru saja melakukan tugasnya. Apakah hal itu dikarenakan oleh kurang sadarnya warga sekolah yang lain ? Mungkin saja begitu adanya.
Para guru yang menjadi panutan para siswi sudah sepatutnya mencontohkan hal baik. Selain dalam mengajarkan materi mata pelajaran yang diampu, mereja juga wajib menanamkan nilai – nilai yang sepatutnya dibekalkan pada siswi. Salah satunya tentang kesadaran menjaga kebersihan lingkungan sekolah ini.
Di SMA Santa Maria Yogyakarta, para guru getol betul soal menyadarkan siswi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Jika saya ingat lagi,  tidak ada hari tanpa mengingatkan para siswi untuk menjaga kebersihan. Apalagi sekolah menengah atas ini hanya memiliki murid perempuan yang notabene rajin dan bersih. Hal ini harus dipertahankan juga dicontohkan. Jangan sampai ada guru yang memberi contoh kurang baik, atau lalai dalam menjaga kebersihan lingkungan. Karena hal itu akan dijadikan siswi sebagai celah untuk membela diri jika melakukan tindakan yang membuat lingkungan kotor.
Para guru ataupun karyawan sekolah harus tegas dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih. Mereka harus menyadarkan para siswinya untuk menjaga kebersihan lingkungan terutama di sekolah. Tetapi jangan sampai penyadaran atau peringatan itu tersampaikan dengan kesan marah. Misalnya, ada siswi yang sengaja membuang sampah tidak pada tempatnya, langsung diingatkan tanpa harus terdengar seperti marah dan ceramah yang panjang lebar pada saat itu. Tapi gunakan saja ajakan dengan nada yang menyenangkan.
Walaupun peran guru dan karyawan dibutuhkan dalam kesadaran siswi untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah, yang lebih penting lagi adalah apakah siswi itu sadar ? Rasa-rasanya percuma jika para guru dan karyawan semangat mengingatkan para siswi jika hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Harus benar-benar tertanam dalam ingatan para siswi, supaya dalam menjaga kebersihan tidak lagi harus selalu diingatkan.
Dari apa yang saya lihat, masih ada saja siswi yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Diselipkan pada ventilasi, atau di sudut-sudut yang sekiranya tidak akan diperhatikan, pura-pura tidak sadar kemudian membuang sampah rautan pensil di bawah meja, dilempar begitu saja ke saluran air, disembunyikan di balik tanaman, dan sebagainya. Padahal di setiap lantai ada tempat sampah. Para siswi masih saja membuang sampah tidak pada tempatnya. Jadi apa penyebabnya ? Kemungkinan besar adalah rasa malas untuk mencapai tempat sampah ini. Hal itu tentu saja harus dilawan oleh si siswi sendiri. Nasihat dari orang lain akan sia-sia jika dari dalam benak siswi tidak ada niatan untuk tulus menjaga kebersihan lingkungan. Apakah harus menunggu sampai ada yang terkena penyakit serius yang disebabkan oleh kotornya lingkungan baru akan berubah ? Sangat tidak baik jika harus menunggu korban baru berubah.
Piket kelas, setiap harinya secara bergantian membersihkan kelas. Apakah berjalan ? Ada yang bertugas dengan baik ada yang piket hanya asal atau tidak sungguh-sungguh melaksanakan tugas piketnya. Petugas piket paling sering membersihkan kelas hanya dengan menyapu, membersihkan papan tulis, merapikan meja, itu yang paling saya sering lihat termasuk yang paling sering saya lakukan juga. Bisa saja kita menanamkan kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan mengajak siswi untuk membersihkan kelas secara lebih. Seperti mengelap kaca jendela, mengelap meja, mengepel. Saya sendiri ingin melakukan hal-hal tersebut, tapi malas juga jika harus membawa peralatan sendiri. Sementara di ruang tempat perlengkapan kebersihan hanya ada peralatan untuk karyawan yang bertugas membersihkan. Bahkan, kadang kami diminta cepat-cepat meninggalkan kelas agar dibersihkan karyawan yang bertugas. Inilah yang menyebabkan kebanyakan siswi mempunyai pikiran “Sudahlah, tidak perlu terlalu bersih, nanti juga dibersihkan oleh bapak petugas.” Lalu kapan akan sepenuhnya sadar dan peduli ?
SMA Santa Maria Yogyakarta sebenarnya sudah memfasilitasi semua yang mendukung kebersihan lingkungan sekolah. Setiap kelas ada alat kebersihan seperti sapu dan kemoceng. Ada kegiatan membersihkan lingkungan sekolah dan sekitar sekolah setiap tahun. Tempat sampah ada di depan kelas, di depan kantor guru, di dekat kantin, di luar gedung sekolah. Ada program pengolahan sampah organik, juga setiap kelas diharapkan mengumpulkan sampah-sampah botol plastik yang bisa didaur ulang.
Yang bisa saya simpulkan adalah tidak peduli betapa keras orang lain memperingatkan kita untuk menjaga kebersihan. Dalam hal ini seperti guru yang selalu memperingatkan siswinya untuk menjaga kebersihan. Jika tidak ada kesadaran atau niatan dari setiap pribadi para siswi, kekompakkan dalam menjaga kebersihan lingkungan ini akan sulit terwujud. Setiap siswi harus sadar akan pentingnya menjaga kebersihan sekolah agar lingkungan sekolah yang bersih benar-benar tewujud. Kebersihan lingkungan akan terwujud jika setiap warga di lingkungan tersebut mau bekerja sama. Tidak bisa hanya satu atau dua orang saja yang bekerja. Malah yang ada pekerjaan satu atau dua orang yang peduli kebersihan ini akan sia-sia jika masih ada yang tidak peduli kebersihan lingkungan. Atau sudah banyak yang peduli kebersihan lingkungan tetapi ada satu atau dua orang yang peduli itu juga akan mempengaruhi kebersihan lingkungan. Karena satu nila setitik rusak susu sebelanga.
Maka dari itu, refleksikan kembali. Apa manfaat dari menjaga kebersihan lingkungan ? Tentu saja supaya nyaman dan terhindar dari berbagai penyakit. Apa dampak jika kita tidak mau menjaga kebersihn lingkungan ? Kuman akan berkembang, mudah terserang penyakit, akan muncul hewan-hewan yang suka lingkungan kotor seperti kecoak yang menjijikan, tidak enak dipandang, menjadi tidak nyaman, bisa juga membuat gatal-gatal. Siapa yang ingin lingkungan sekolahnya seperti itu ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar