Bersih
Pangkal Sehat. Slogan yang sudah tidak asing di telinga kita. Memang betul
adanya arti kalimat tersebut. Bersih sendiri berarti bebas dari kotoran. Dengan
bersihnya lingkungan kita, akan ada sedikit bakteri atau kuman yang bersarang
dan berkembang di sekitar kita. Tapi, apakah kita semua sudah sadar akan hal
itu ? Apakah kita sudah paham akan arti slogan itu ? Atau kita paham tapi
kurang peduli ?
Kebersihan
lingkungan, terutama di lingkungan sekolah, sangat penting untuk dijaga.
Sekolah yang bersih akan membantu kemajuan kualitas sekolah tersebut.
Lingkungan sekolah yang bersih akan menciptakan suasana proses belajar yang
nyaman. Sebaliknya, jika lingkungan sekolah kita kotor maka akan menimbulkan
dampak negatif. Misalnya, kita akan mudah terkena penyakit, karena banyak kuman
yang berkembang, di beberapa sudut yang kurang dijaga kebersihannya ini menjadi
tidak enak dipandang, pokoknya tidak nyaman. Hal tersebut bisa menjadikan
kegiatan belajar mengajar pun menjadi terganggu, sehingga siswi menjadi malas,
ogah-ogahan, karena merasa kurang nyaman.
Mari
kita lihat keadaan SMA Santa Maria Yogyakarta, sekolah menengah atas yang
berada di Jalan Ireda no. 19A Yogyakarta ini apakah sudah bersih ? Menurut
pandangan saya, sekolah tempat saya bersekolah ini sudah cukup bersih. Mengapa
saya harus menambahkan kata ‘cukup’ ? Karena lingkungan sekolah tampaknya lebih
bersih ketika karyawan yang bertugas untuk membersihkan lingkungan sekolah baru
saja melakukan tugasnya. Apakah hal itu dikarenakan oleh kurang sadarnya warga
sekolah yang lain ? Mungkin saja begitu adanya.
Para
guru yang menjadi panutan para siswi sudah sepatutnya mencontohkan hal baik.
Selain dalam mengajarkan materi mata pelajaran yang diampu, mereja juga wajib
menanamkan nilai – nilai yang sepatutnya dibekalkan pada siswi. Salah satunya
tentang kesadaran menjaga kebersihan lingkungan sekolah ini.
Di
SMA Santa Maria Yogyakarta, para guru getol betul soal menyadarkan siswi
tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Jika saya ingat
lagi, tidak ada hari tanpa mengingatkan
para siswi untuk menjaga kebersihan. Apalagi sekolah menengah atas ini hanya
memiliki murid perempuan yang notabene rajin dan bersih. Hal ini harus
dipertahankan juga dicontohkan. Jangan sampai ada guru yang memberi contoh
kurang baik, atau lalai dalam menjaga kebersihan lingkungan. Karena hal itu
akan dijadikan siswi sebagai celah untuk membela diri jika melakukan tindakan
yang membuat lingkungan kotor.
Para
guru ataupun karyawan sekolah harus tegas dalam mewujudkan lingkungan sekolah
yang bersih. Mereka harus menyadarkan para siswinya untuk menjaga kebersihan
lingkungan terutama di sekolah. Tetapi jangan sampai penyadaran atau peringatan
itu tersampaikan dengan kesan marah. Misalnya, ada siswi yang sengaja membuang
sampah tidak pada tempatnya, langsung diingatkan tanpa harus terdengar seperti
marah dan ceramah yang panjang lebar pada saat itu. Tapi gunakan saja ajakan
dengan nada yang menyenangkan.
Walaupun
peran guru dan karyawan dibutuhkan dalam kesadaran siswi untuk menjaga
kebersihan lingkungan sekolah, yang lebih penting lagi adalah apakah siswi itu
sadar ? Rasa-rasanya percuma jika para guru dan karyawan semangat mengingatkan
para siswi jika hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Harus
benar-benar tertanam dalam ingatan para siswi, supaya dalam menjaga kebersihan
tidak lagi harus selalu diingatkan.
Dari
apa yang saya lihat, masih ada saja siswi yang membuang sampah tidak pada
tempatnya. Diselipkan pada ventilasi, atau di sudut-sudut yang sekiranya tidak
akan diperhatikan, pura-pura tidak sadar kemudian membuang sampah rautan pensil
di bawah meja, dilempar begitu saja ke saluran air, disembunyikan di balik
tanaman, dan sebagainya. Padahal di setiap lantai ada tempat sampah. Para siswi
masih saja membuang sampah tidak pada tempatnya. Jadi apa penyebabnya ?
Kemungkinan besar adalah rasa malas untuk mencapai tempat sampah ini. Hal itu
tentu saja harus dilawan oleh si siswi sendiri. Nasihat dari orang lain akan sia-sia
jika dari dalam benak siswi tidak ada niatan untuk tulus menjaga kebersihan
lingkungan. Apakah harus menunggu sampai ada yang terkena penyakit serius yang
disebabkan oleh kotornya lingkungan baru akan berubah ? Sangat tidak baik jika
harus menunggu korban baru berubah.
Piket
kelas, setiap harinya secara bergantian membersihkan kelas. Apakah berjalan ?
Ada yang bertugas dengan baik ada yang piket hanya asal atau tidak
sungguh-sungguh melaksanakan tugas piketnya. Petugas piket paling sering
membersihkan kelas hanya dengan menyapu, membersihkan papan tulis, merapikan
meja, itu yang paling saya sering lihat termasuk yang paling sering saya
lakukan juga. Bisa saja kita menanamkan kesadaran untuk menjaga kebersihan
lingkungan dengan mengajak siswi untuk membersihkan kelas secara lebih. Seperti
mengelap kaca jendela, mengelap meja, mengepel. Saya sendiri ingin melakukan
hal-hal tersebut, tapi malas juga jika harus membawa peralatan sendiri.
Sementara di ruang tempat perlengkapan kebersihan hanya ada peralatan untuk
karyawan yang bertugas membersihkan. Bahkan, kadang kami diminta cepat-cepat
meninggalkan kelas agar dibersihkan karyawan yang bertugas. Inilah yang
menyebabkan kebanyakan siswi mempunyai pikiran “Sudahlah, tidak perlu terlalu
bersih, nanti juga dibersihkan oleh bapak petugas.” Lalu kapan akan sepenuhnya sadar
dan peduli ?
SMA
Santa Maria Yogyakarta sebenarnya sudah memfasilitasi semua yang mendukung
kebersihan lingkungan sekolah. Setiap kelas ada alat kebersihan seperti sapu
dan kemoceng. Ada kegiatan membersihkan lingkungan sekolah dan sekitar sekolah
setiap tahun. Tempat sampah ada di depan kelas, di depan kantor guru, di dekat
kantin, di luar gedung sekolah. Ada program pengolahan sampah organik, juga
setiap kelas diharapkan mengumpulkan sampah-sampah botol plastik yang bisa
didaur ulang.
Yang
bisa saya simpulkan adalah tidak peduli betapa keras orang lain memperingatkan
kita untuk menjaga kebersihan. Dalam hal ini seperti guru yang selalu
memperingatkan siswinya untuk menjaga kebersihan. Jika tidak ada kesadaran atau
niatan dari setiap pribadi para siswi, kekompakkan dalam menjaga kebersihan
lingkungan ini akan sulit terwujud. Setiap siswi harus sadar akan pentingnya
menjaga kebersihan sekolah agar lingkungan sekolah yang bersih benar-benar
tewujud. Kebersihan lingkungan akan terwujud jika setiap warga di lingkungan
tersebut mau bekerja sama. Tidak bisa hanya satu atau dua orang saja yang
bekerja. Malah yang ada pekerjaan satu atau dua orang yang peduli kebersihan
ini akan sia-sia jika masih ada yang tidak peduli kebersihan lingkungan. Atau
sudah banyak yang peduli kebersihan lingkungan tetapi ada satu atau dua orang
yang peduli itu juga akan mempengaruhi kebersihan lingkungan. Karena satu nila
setitik rusak susu sebelanga.
Maka
dari itu, refleksikan kembali. Apa manfaat dari menjaga kebersihan lingkungan ?
Tentu saja supaya nyaman dan terhindar dari berbagai penyakit. Apa dampak jika
kita tidak mau menjaga kebersihn lingkungan ? Kuman akan berkembang, mudah
terserang penyakit, akan muncul hewan-hewan yang suka lingkungan kotor seperti
kecoak yang menjijikan, tidak enak dipandang, menjadi tidak nyaman, bisa juga
membuat gatal-gatal. Siapa yang ingin lingkungan sekolahnya seperti itu ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar